Selasa, 03 Maret 2009

Ratusan Ribu Pejuang Islam Berasal dari Kaum Muda

Jika kita mengamati lebih jauh lagi maka akan tercengang oleh keberadaan para kaum muda dibalik gemilangnya kejayaan Islam. Ratusan ribu pejuang Islam berasal dari golongan kaum muda. Mereka memperjuangkan dakwah Islam, menjadi pembawa panji-panji Islam, serta merekalah yang akan kedepan menjadi benteng pertahanan ataupun serangan bagi bala tentera Islam dimasa nabi ataupun sesudah itu. Mereka secara keseluruhan berasal dari kalangan pemuda, bahkan ada di antara mereka adalah remaja yang belum atau baru dewasa.

Usamah bin Zaid diangkat oleh Nabi saw menjadi komandan dalam memimpin pasukan kaum muslimin menyerbu wilayah Syam (saat itu merupakan wilayah Rom) dalam usia 18 tahun. Padahal di antara prajuritnya terdapat orang yang lebih tua daripada Usamah, seperti Abu Bakar, Umar bin Khathab dan lain-lainnya.

Abdullah bin Umar pula telah memiliki semangat juang yang bergelora untuk berperang sejak berumur 13 tahun. Ketika Rasulullah saw sedang mempersiapkan barisan pasukan pada perang Badar, Ibnu Umar bersama al Barra’ datang kepada baginda seraya meminta agar diterima sebagai prajurit. Saat itu Rasulullah saw menolak kedua pemuda kecil itu. Tahun berikutnya, pada perang Uhud, keduanya datang lagi, tapi yang diterima hanya Al barra’. Dan pada perang Al Ahzab barulah Nabi menerima Ibnu Umar sebagai anggota pasukan kaum muslimin (Shahih Bukhari VII/266 dan 302).

Terdapat satu peristiwa yang sangat menarik untuk renungan para pemuda di zaman ini. Peristiwa ini selengkapnnya diceritakan oleh Abdurrahman bin Auf: "Selagi aku berdiri di dalam barisan perang Badar, aku melihat kekanan dan kekiri ku. Saat itu tampaklah olehku dua orang Anshar yang masih muda belia. Aku berharap semoga aku lebih kuat daripada mereka. Tiba-tiba salah seorang daripada mereka menekanku sambil berkata: ‘Wahai pakcik apakah engkau mengenal Abu Jahal ?’ Aku menjawab: ‘Ya, apakah keperluanmu padanya, wahai anak saudara ku ?’ Dia menjawab: ‘ Ada seorang memberitahuku bahawa Abu Jahal ini sering mencela Rasulullah saw. Demi (Allah) yang jiwaku ada ditangan-Nya, jika aku menjumpainya tentulah takkan kulepaskan dia sampai siapa yang terlebih dulu mati antara aku dengan dia!" Berkata Abdurrahman bin Auf: ‘Aku merasa hairan ketika mendengarkan ucapan anak muda itu’. Kemudian anak muda yang satu lagi menekan ku pula dan berkata seperti temannya tadi. Tidak lama berselang daripada itu aku pun melihat Abu Jahal mundar dan mandir di dalam barisannya, maka segera aku khabarkan (kepada dua anak muda itu): ‘Itulah orang yang sedang kalian cari."

Keduanya langsung menyerang Abu Jahal, menikamnya dengan pedang sampai tewas. Setelah itu mereka menghampiri Rasulullah saw(dengan rasa bangga) melaporkkan kejadian itu. Rasulullah berkata: ‘Siapa di antara kalian yang menewaskannya?’ Masing-masing menjawab: ‘sayalah yang membunuhnya’. Lalu Rasulullah bertanya lagi: ‘Apakah kalian sudah membersihkan mata pedang kalian?’ ‘Belum’ jawab mereka serentak. Rasulullah pun kemudian melihat pedang mereka, seraya bersabda: ‘Kamu berdua telah membunuhnya. Akan tetapi segala pakaian dan senjata yang dipakai Abu Jahal(boleh) dimiliki Mu’adz bin al Jamuh." (Berkata perawi hadits ini): Kedua pemuda itu adalah Mu’adz bin "afra" dan Mu’adz bin Amru bin Al Jamuh" (Lihat Musnad Imam Ahmad I/193 . Sahih bukhari Hadits nomor 3141 dan Sahih Muslim hadits nombor 1752). (dakwahislam.blog.friendster.com)

Baca Selengkapnya ...

Generasi Muda Masa Lalu dan Kini

Generasi remaja sekarang jika dilihat dari pola kehidupannya bisa dikatakan sudah sangat mengkhawatirkan. Narkoba, Seks Bebas, Hamil diluar nikah, hura-hura, geng motor, tawuran, aborsi merupakan sebutan yang begitu melekat pada kaum muda saat ini. Data - data hasil survey bisa kita jadikan sebagai salah satu yang menunjukkan bukti ini. Apa yang kami lihat disekitar kami pun tak jauh beda menggambarkan demikian.

Beberapa siswa SMP dan SMA yang salah satunya pendiam ternyata hamil diluar nikah. Kejadian lainnya adalah beberapa remaja SMA yang sebagiannya perempuan melakukan pesta minuman keras. Pernah juga ada salah satu siswa SMA yang mengaku sudah melakukan hubungan seks berkali-kali. Banyak lagi cerita lainnya yang menggambarkan begitu mengkhawatirkannya kondisi remaja saat ini. Beruntung bagi sebagian remaja lainnya yang jauh dari pergaulan dan perilaku buruk tersebut.

Kadang muncul pertanyaan, apakah yang sedang dilakukan dan difikirkan oleh remaja berusia 8 hingga 18 tahun dan pemuda-pemudi berusia 23 tahunan ? Remaja dan pemuda-pemudi sekarang lebih banyak aktif untuk memuaskan nafsu semata-mata. Lihatlah cara berpakaian mereka, cara bergaul, kreativitas dan sejenisnya. Gambaran remaja dan pemuda-pemudi yang tampil di berbagai media, tak ada bedanya antara mereka (yang mengaku Muslim) dengan artis-artis yang jelas menyebarkan contoh perilaku buruk dan tidak terpuji.

Mari kita tengok bagaimana kehidupan pribadi - pribadi para pemuda jaman dulu. Dari dakwahislam.blog.friendster.com disebutkan bahwa (Imam) Syafii telah hafal Al Quran pada usia sekitar 9 tahun dan mulai diminta ijtihadnya pada usia kira-kira 13 tahun, akhirnya ia menjadi mujtahid, imam madzhab yang terkemuka. Hassan Al Banna mendirikan gerakan Ikhwanul Muslimin pada usia 23 tahun. Usamah bin Zaid pada usia 18 tahun telah memimpin pasukan perang Ali bin Abi Thalib dan Zubair bin Awwam pada usia 8 tahun telah terlibat dalam perjuangan.

Baca Selengkapnya ...

Para Generasi Muda Binaan Rasulullah Berusia Mulai 8 Tahun

Mari kita lihat para generasi pertama yang dibina Rasulullah. Rasulullah SAW diangkat menjadi Rasul tatkala berumur 40 tahun. Pengikut-pengikut generasi pertama yang dibina rasulullah kebanyakannya daripada kalangan pemuda, bahkan ada yang masih kecil.

dakwahislam.blog.friendster.com : Usia para pemuda Islam yang dibina pertama kali oleh Rasulullah saw di Daarul Arqaam pada tahap pembinaan, adalah sebagai berikut:

Ali bin Ali Thalib, paling muda di antara mereka, usianya saat masuk Islam baru 8 tahun
Az Zubair bin Al 'Awwam, sama dengan Ali yaitu 8 tahun
Thalhah bin Ubaidillah, 11 tahun
Al Arqam bin Abil Arqaam, 12 tahun
Abdullah bin Mas'ud, 14 tahun
Sa'ad bin Abi Waqqaas, 17 tahun
Su'ud bin Rabi'ah, sama dengan Sa'ad, yaitu 17 tahun
Abdullah bin Mazh'un, juga berusia 17 tahun
Ja'far bin Abi Thalib, 18 tahun
Qudaamah bin Mazh'un, 19 tahun
Sa'id bin Zaid, berusia di bawah 20 tahun
Suhaib Ar Rumi, juga berusia di bawah 20 tahun
Assa'ib bin Mazh'un, kira-kira 20 tahun
Zaid bin Haritsah, sekitar 20 tahun
'Usman bin 'Affan, sekitar 20 tahun
Tulaib bin 'Umair, sekitar 20 tahun
Khabab bin Al Art, juga sekitar 20 tahun
'Aamir bin Fahirah, 23 tahun
Mush'ab bin 'Umair, 24 tahun
Al Miqdad bin Al Aswad, seperti Mush'ab 24 tahun
Abdullah bin Al Jahsy, 25 tahun
Umar bin Al Khaththab, 26 tahun
Abu Ubaidah Ibnul Jarrah, 27 tahun
'Utbah bin Ghazwaan, juga 27 tahun
Abu Hudzaifah bin 'Utbah, sekitar 30 tahun
Bilal bin Rabah, sekitar 30 tahun
'Ayyasy bin Rabi'ah, kira-kira 30 tahun
'Amir bin Rabi'ah, sekitar 30 tahun
Nu'aim bin Abdillah, hampir 30 tahun
'Usman bin Mazh'un, kira-kira 30 tahun
Abu Salamah, Abdullah bin 'Abdil Asad Al Makhzumi, sekitar 30 tahun
Abdurrahman bin 'Auf, juga 30 tahun
Ammar bin Yasir, antara 30-40 tahun
Abu Bakar Ash Shiddiq, 37 tahun
Hamzah bin Abdil Muththalib, 42 tahun
'Ubaidah bin Al Harits, paling tua di antara semua sahabat, 50 tahun.

Malah ratusan ribu lagi para pejuang Islam yang terdiri daripada golongan pemuda. Mereka memperjuangkan dakwah Islam, menjadi pembawa panji-panji Islam, serta merekalah yang akan kedepan menjadi benteng pertahanan ataupun serangan bagi bala tentera Islam dimasa nabi ataupun sesudah itu. Mereka secara keseluruhannya adalah daripada kalangan pemuda, bahkan ada di antara mereka adalah remaja yang belum atau baru dewasa. Usamah bin Zaid diangkat oleh Nabi saw sebagai komander untuk memimpin pasukan kaum muslimin menyerbu wilayah Syam (saat itu merupakan wilayah Rom) dalam usia 18 tahun. Padahal di antara prajuritnya terdapat orang yang lebih tua daripada Usamah, seperti Abu Bakar, Umar bin Khathab dan lain-lainnya. Abdullah bin Umar pula telah memiliki semangat juang yang bergelora untuk berperang sejak berumur 13 tahun. Ketika Rasulullah saw sedang mempersiapkan barisan pasukan pada perang Badar, Ibnu Umar bersama al Barra’ datang kepada baginda seraya meminta agar diterima sebagai prajurit. Saat itu Rasulullah saw menolak kedua pemuda kecil itu. Tahun berikutnya, pada perang Uhud, keduanya datang lagi, tapi yang diterima hanya Al barra’. Dan pada perang Al Ahzab barulah Nabi menerima Ibnu Umar sebagai anggota pasukan kaum muslimin (Shahih Bukhari VII/266 dan 302).

Baca Selengkapnya ...

Senin, 02 Maret 2009

Menyempurnakan Rasa Syukur

Oleh : Sunaryo Saripudin, S.Pd.

Dengan hati terbuka dan perasan rendah hati mari kita bersama-sama untuk mengingat lagi bagaimana cara beryukur. Kadang syukur terucap dibibir ini hanya sebatas lisan namun hati dan tindakan justru bersebrangan. Sungguh makhluk tidak tahu diri. Ampunilah Kami wahai Robb, makluk yang dipenuhi oleh nikmat dari-Mu namun tidak tau bersyukur kepada-MU.

Agar rasa syukur ini menjadi sempurna maka diperlukan tiga hal. Para ulama menyampaikan tiga cara untuk mengungkapkan rasa syukur kita kepada Allah. Pertama, bersyukur dengan hati nurani; Kedua, bersyukur dengan ucapan ; Ketiga, bersyukur dengan perbuatan.

Menurut Imam al-Ghazali, ada tujuh anggota tubuh yang harus dimaksimalkan untuk bersyukur. Antara lain, mata, telinga, lidah, tangan, perut, kemaluan, dan kaki. Seluruh anggota ini diciptakan Allah sebagai nikmat-Nya untuk kita.

Allah berfirman, ''Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).'' (QS Aldhuha [93]: 11).

Baca Selengkapnya ...

Tidak Iklas Saat Diberi Bantuan

oleh : Sunaryo Saripudin S.Pd.

Mungkin judul Materi kali ini sedikit agak unik. Jika berbicara mengenai "Ikhlas", biasanya disangkutkannya kepada orang atau pihak yang memberi bantuan tetapi ini justru dari pihak penerima bantuan. Apakah ada orang yang tidak ikhlas ketika diberi?

Setiap umat Islam yang melakukan kebaikan belum tentu di catat sebagai amal kebaikan. Karena ada syarat mutlak yang harus dipenuhi yakni " Ikhlas". Tanpa disertai keikhlasan maka sebanyak apapun amal yang dilakukan hanya sia-sia belaka. Tentu ini harus menjadi perhatian.

Secara logika, ketika seseorang diberi bantuan seharusnya ia senang dan berterima kasih secara tulus kepada si pemberi. Sudah bagus ada orang yang rela mengeluarkan bantuan untuknya. Namun dimasyarakat tidak semua orang yang diberi itu merasa senang dan berterima kasih. Malahan dari beberapa kasus sempat sampai ketelinga saya, ada beberapa orang penerima bantuan justru malah menggerutu.

Mengherankan memang jika merenungi kejadian ini. Ternyata ada penyakit yang saat ini di derita oleh saudara kita. Bukan penyakit lepra, kurap, jantung maupun ginjal. Tetapi penyakit yang tidak bisa dideteksi oleh dokter dan dilihat oleh indra namun ia benar-benar ada dan dampaknya luar biasa. Penyakit ini tiada lain adalah penyakit batin (penyakit hati). Secara spesifik mungkin penyakit "Tidak tahu bersyukur". Makanya tidak heran jika hidupnya susah dari keberkahan. Bukankah Allah mengingatkan "Jika kamu bersyukur maka nikmat akan ditambah" "La Insyakartum Laajidanakum".

Apakah mungkin saudara kita belum mengetahui bagaimana cara bersyukur. Jika ya ini tentu kewajiban kita semua untuk memberi tahunya dengan cara yang santun, tepat, dan dalam bahasa mereka.
Ada golongan orang yang ketika mendapat nikmat ia ada yang syukur nikmat ada juga yang kufur nikmat. Ngomong-ngomong kita termasuk yang mana ya?

Baca Selengkapnya ...

Pelaku Kejahatan Mendapat Balasan Setimpal

Oleh : Sunaryo Saripudin, S.Pd.

Siapapun sangat senang jika diperlakukan baik oleh orang lain dan sebaliknya sangat benci jika diperlakukan jahat. Penipu sekalipun tidak sudi jika dirinya ditipu. Tukang bohong tidak mau jika dirinya dibohongi. Tukang aniaya tidak akan pernah menerima jika diri dan keluarganya dianiaya. Mari kita bercermin sejenak, pandanglah orang yang ada didalam cermin, yang kini ada dihadapan anda. Tanyakanlah apakah dia suka berbuat jahat dan berperangai buruk atau sebaliknya. Berapa banyak orang yang pernah dianiaya olehnya. Tanyalah pada orang yang ada didalam cermin yang sedang menatap anda.

Islam memerintahkan umat nya untuk melakukan perbuatan baik bahkan diperintahkan berlomba-lomba. Juga Islam menyayangi Umat nya dengan menganjurkan agar umatnya meninggalkan perbuatan jahat. Bahkan dalam kondisi perang Islam melarang Umat nya berbuat kerusakan pada pohon sekalipun. Ajaran yang sungguh indah dan lembut.

Pelaku kejahatan sebenarnya sedang mempersiapkan bencana buat dirinya sendiri. Setiap kejahatan yang ia lakukan merupakan amunisi yang siap menghempas kedalam dirinya. Balasan setimpal dan kehinaan tinggal menunggu waktu saja dan pasti menghampirinya.

Allah swt berfirman: Orang-orang yang mengerjakan kejahatan (mendapat) balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari (adzab) Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Yûnus [10]: 27).

Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (Az-Zalzalah [99]: 8).

Ath-Thabrani meriwatatkan dari Jabir ra bahwa ia berkata, “Pernah ditanyakan kepada Rasulullah, ‘Apakah yang dimaksud dengan kesialan itu?’ Beliau menjawab, ‘Perangai yang buruk.’”

Semoga kita dilindungi oleh Allah SWT dari berbuat jahat. amiin ya robal alamin.

Punya kisah atau pengalaman kehidupan yang berkaitan dengan materi ini silahkan berbagi disini!!!

Baca Selengkapnya ...

Membangun Pilar Ketokohan Generasi Muda yang Berpengaruh

Oleh : Sunaryo Saripudin, S.Pd.

Membangun sebuah peradaban akan lebih efektif jika terlebih dahulu membangun karakter para pemudanya terlebih dahulu. Persis seperti apa yang dilakukan 14 abad yang lalu oleh Rasulullah SAW. Beliau merekrut kaum muda dan membangun karakter mereka dengan karakter berani, tangguh, soleh (berakhlak mulia dan bertauhid kokoh). Maka tidak heran penyebaran dan peradaban Islam begitu cepat merebak ke seantero jagat hanya dengan hitungan tidak lebih dari 23 tahun. Sebuah prestasi gemilang tiada tanding.

Sejarah mencatat begitu banyak para pemuda yang bahkan usianya belasan tahun mampu menaklukan benua. Mampu dengan gagahnya memimpin peperangan dengan hasil kemenangan yang gemilang tanpa gentar dan takut sama sekali. Ini semua tiada lain hasil dari binaan Rasulullah SAW. Sebuah metode dan pola pembinaan yang patut dijadikan rujukan dan acuan oleh siapapun diseluruh dunia. Mereka betul - betul menjadi Agen pembaharu tiada tanding yang cakupan pengaruh wilayahnya bukan hanya lokal melainkan global.

Mengapa para pemuda menjadi target binaan Rasulullah SAW? Jika ditelaah ternyata jawabannya bisa ditemukan bahwa para pemuda lebih mudah menerima kebenaran dan gemblengan dari Rasulullah SAW dibanding kaum tua. Bahkan Kebanyakan dari kaum tua justru malah menjadi penentang kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah.

Saat ini generasi muda justru dalam kondisi pergaulan yang sangat mengkhawatirkan. Narkoba, seks bebas, hura-hura, aborsi, geng motor, hamil diluar nikah (hamil pra nikah) dan sebagainya tengah melanda kaum muda saat ini. Sungguh tragis memang. Tapi apa mau dikata, semua sudah terjadi hanya saja kita sebagai generasi Muda Islam tentu tidak boleh berpangku tangan. Sumbangan tenaga, pikiran, waktu, materi, atau apapun dan dalam kuantitas sekecil apapun adalah lebih bermanfaat daripada tidak sama sekali apalagi sentimen.

Kiranya dalam membangun generasi muda ada dua pilar yang perlu dipokuskan :
Pertama Ketokohan Pemuda. Kedua, Ketokohan Komunitas Kaum Muda. Ketokohan kaum muda masksudnya adalah diri pribadi (individu) pemuda itu sendiri. Diharapkan ia jadi tokoh centra perubahan. Tentu dalah hal ini ada beberapa kriteria karakter yang harus dimiliki antara lain, beraklak mulia, tauhid yang kokoh, berani, mampu memimpin.
Ketokohan Komunitas Kaum Muda maksudnya adalah kumpulan atau beberapa kaum muda yang mendukung sang tokoh muda tadi. Tentu komunitas kaum muda ini pun perlu memiliki karakter sebagaimana karakter mulia di atas. Ada pemimpin ada yang dipimpin. Pemimpin mampu memimpin dan yang dipimpin mampu dan siap dipimpin. Jadi disini ada proses pengorganisasian langkah atau gerakan. Salah satu karakter penting yang harus dimiliki oleh setiap pribadi kaum muda ini yaitu siap memimpin dan siap dipimpin. Sehingga setiap program dan langkah senantiasa terorganisir secara solid.

Sebuah pepatah mengatakan " kebaikan yang tidak terorganisir, dapat dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir".

Semoga bermanfaat.

Kami Senang jika sahabat memberikan tanggapan!!!

Baca Selengkapnya ...